Mengaku Awak Media Online Peras Perusahaan Tongkang Cangkang Sawit

sidak oknum yang mengaku wartawan media online
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM – Sekelompok masyarakat sipil dengan alasan telah melihat terjadi kesalahan lokasi pemuatan cangkang sawit dari pelabuhan perusahaan yang dipindahkan ke pelabuhan rakyat, mengambil inisiatif untuk melakukan sidak ke kapal TB Samudera Agung 189.

Namun ujung-ujungnya, mereka yang mengaku berprofesi sebagai awak media online yang berjumlah delapan orang ini justru mencoba melakukan pemerasan.

Tak tanggung-tanggung, gerombolan ini meminta “bayaran” senilai Rp 25 juta dengan alasan telah menghabiskan biaya untuk menyewa kendaraan, membeli bahan bakar, dan konsumsi. Ditambah lagi, karena mereka telah menempuh jarak yang cukup jauh untuk mencapai lokasi pelabuhan.

Pihak pembeli cangkang sebenarnya sudah memberikan kebijaksanaan menawarkan uang sebesar Rp 3 juta namun tetap ditolak dengan alasan tidak mencukupi.

Menurut informasi yang dikumpulkan media, kejadian ini bermula dari bersandarnya Kapal TB Samudera Agung 189 yang menarik tongkang Samudera 168 guna mengangkut cangkang sawit milik PT Dwita Lestari Jaya (DLJ). Pemuatan membutuhkan waktu lebih kurang lima hari sejak 9 Mei 2019 dan berakhir tanggal 13 Mei 2019.

Saat proses pemuatan itulah, Jumat (10/5), oknum wartawan yang dikordinir B bersama tujuh rekannya mendatangi lokasi menggunakan kendaraan pribadi. B didampingi tujuh rekannya yakni Has, Arf, Erw, Ram, And, Her dan Mah.

Kepada crew kapal yang sedang memuat, mereka melakukan inspeksi layaknya petugas. Mereka juga menunjukkan dokumen yang menyatakan bahwa berdasarkan persetujuan bongkar muat yang dikeluarkan Dirjen Perhubungan melalui Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan Kelas ll Tanjung Redeb harus memuat di lokasi pelabuhan milik PT Dwita Lestari Jaya (DLJ).

Sementara lokasi saat itu berada di pelabuhan desa tak jauh dari pelabuhan pabrik sawit sekitar 2,5 km karena alasan teknis.

Pihak Syahbandar yang dimintai pendapatnya tidak menampik pemindahan lokasi muat tersebut.

Namun hal tersebut bukanlah pelanggaran. Sebagaimana dicantumkan di dalam surat pemindahan lokasi pelabuhan dimungkinkan apabila ada alasan darurat.

Menyangkut alasan mengapa kapal memuat di lokasi bukan milik PT DLJ, menurut dia dikarenakan, lokasi pelabuhan milik perusahaan tidak mendukung.

Pelabuhan yang ada selama ini hanya untuk mengangkut minyak sawit cair. “Tidak masalah dipindahkan bila darurat. Yang penting kapal membayar kewajiban penerimaan negara bukan pajak (PNBP),” kata Abdurahman, Syahbandar Berau, Selasa (21/5).

Dia juga heran mengapa ada pihak di luar otoritas pelabuhan yang melakukan inspeksi ke lokasi. “Saya juga ditelpon tapi ujung ujungnya minta uang juga,” tandasnya.

Sebagai informasi, pemuatan cangkang ini merupakan yang pertama kalinya di pelabuhan tersebut dikarenakan pelabuhan milik PT DLJ hanya digunakan untuk pemuatan minyak sawit cair (crude palm oil).

Mengenai tuduhan yang menyatakan surat manifes kapal sudah tidak berlaku, juga dibantah otoritas Syahbandar Berau. Dokumen yang dimiliki oknum wartawan itu, lanjutnya, merupakan dokumen yang tidak lengkap dan hanya memahami sebagian saja sehingga seakan-akan telah terjadi pelanggaran peraturan.

Surat jalan kapal masih berlaku sampai tanggal 20 Mei 2019 sedangkan pemuatan cangkang sudah selesai tanggal 13 Mei 2019.

Pihak pengusaha cangkang, yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa kejadian ini cukup merepotkan dan mengganggu bisnis yang sudah dijalaninya sejak beberapa tahun.

Padahal, menurut dia, bisnis ini selalu melibatkan masyarakat setempat dan memberikan peluang bisnis lokal.

“Paling tidak ada 17 mobil truk dan 17 tenaga kerja yang melakukan bongkar muat. Pekerja yang berkeringat dan banting tulang ini hanya memperoleh sekitar Rp 100 ribu per hari. Jadi kalau memuat selama lima hari mereka baru mendapatkan uang Rp 500 ribu. Tidak adil kalau ada yang tidak bekerja mau mendapatkan uang yang lebih besar. Jelas ini pemerasan,” tandasnya.

Hal senada disampaikan salah seorang pengelola pelabuhan Desa Lempake. Pihaknya sangat menyesalkan adanya oknum yang mengambil kesempatan untuk pribadi karena akan menganggu kegiatan ekonomi desa.

Pelabuhan desa ini sudah berfungsi sejak lama dan digunakan untuk kepentingan masyarakat desa.

Penulis: Indra

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.