Mantan Kepala BP Batam Lukita Beber Resep Agar Perusahaan di Batam Tidak Berguguran Lagi

TOKOH masyarakat Batam, Awang Rajab menyalami mantan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo usai memasangkan tanjak pada Rapim Kadin Batam di Sky Ballroom Lantai 12, Nagoya Hill Hotel, Jumat (12/7).(suryakepri/ist)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM, BATAM – Akhir-akhir ini ekonomi Batam cenderung menurun. Bahkan beberapa perusahaan asing pun ada yang tutup, seperti PT Hantong Precision Manufacturing, PT Nagano Drilube Indonesia, dan lainnya hingga yang terakhir PT Unisem.

Namun, semua itu belum terlambat diatasi jika Batam diatur dengan regulasi yang tegas.

“Saya yakin Batam bisa maju kalau aturannya jelas tegas sehingga ada kepastian. Shenzhen saja belajar kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas (Free Trade Zone/ FTZ) ke Batam, lihat Shenzhen sekarang maju tapi Batam kenapa redup?”

Baca: Warga Kediri Bersatu Syukuran Harlah ke-1: Saatnya Menjadi Lebih Sejahtera

Baca: Baliho Mantan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo Bermunculan. Ini Bocoran Agenda Lukita

Baca: PT Pegatron Technology Indonesia Mulai Rekrut Karyawan. Ini yang Dibutuhkan

“Itu karena aturan di Shenzhen tegas ada kepastian,” ujar mantan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Lukita Dinarsyah Tuwo yang menjadi pembicara dialog ekonomi pada Rapat Pimpinan Kadin di Sky Ballroom Lantai 12, Nagoya Hill Hotel, Jumat (12/07/2019).

“Ini yang perlu kita evaluasi,” tegas Lukita.

Dialog ekonomi dengan tema “Arah Pembangunan Ekonomi Batam 2020-2025, Menuju Visi Indonesia Tahun 2045” ini, dikupas dengan harapan mendudukkan kembali Batam sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di wilayah Barat.

Sebab, pertumbuhan ekonomi Batam biasanya di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Namun dalam beberapa tahun terakhir cenderung melemah.

Sebagaimana dalam rilis yang diterima Suryakepri.com, menurut Ketua Kadin Batam Jadi Rajagukguk, alasan Kadin memilih Lukita sebagai narasumber karena selama menjabat sebagai Kepala BP Batam periode 19 Oktober 2017 sampai 7 Januari 2019 berhasil mendorong dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Batam dari 1,8 persen tahun 2017 menjadi 4,7 persen tahun 2018.

Dalam pengalamannya, diakui Lukita bahwa ivestor tertarik ke Batam karena fasilitas FTZ. Bahkan, investor lama yang sudah menanamkan investasi tahu Batam sebagai kawasan FTZ.

Lukita memaparkan, dalam Undang-Undang FTZ (UU Nomor 44 Tahun 2007) bahwa masa berlaku FTZ itu 70 tahun. Tapi, belum habis masa berlaku FTZ sudah diwacanakan kawasan ekonomi khusus (KEK). Ini menimbulkan ketidakpastian bagi investor.

Padahal, membutuhkan waktu kalau menjadikan Batam KEK. Sebab, teknik operasionalnya minta dikaji lebih lanjut, karena tidak mudah merubah dari FTZ ke KEK.

“Apalagi perusahaan yang ada beroperasi di Batam, mereka tahunya waktu itu Batam FTZ. Kalaupun dirubah, harus dirembug bersama-sama pengusaha. Sehingga menjadi satu kesepakatan bersama.”

“Kalau hanya satu pihak, itu ketidakpastian. Tapi, kalau dua-duanya sepakat pemerintah dan pengusaha berarti tak ada masalah,” beber Lukita.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.