Konten Pornografi Hampir 900 Ribu, Berita Bohong ‘Hanya’ Dua Ribuan

Ilustrasi (today's parent)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM, JAKARTA –  Konten pornografi di dunia maya paling merepotkan bagi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Sampai Juli 2019, mesin pengais (crawling) Kominfo menemukan 898.109 konten pornografi.

Di urutan kedua adalah konten perjudian sebanyak 71.265 konten, disusul konten radikalisme (10.451), penipuan (3.021), dan konten berita bohong (2.457).

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan, perlu sinergi dan komitmen yang kuat antarpemangku kepentingan, mulai dari pegiat atau konten kreator, komunitas, tokoh masyarakat, LSM, regulator, dan penegak hukum untuk sama-sama memerangi masalah ini.

BACA JUGA: Polisi Bongkar Modus Penipuan Suami Rey Utami, Pablo Benua yang Bergaya Kaya

BACA JUGA: Tips Lindungi Data Pribadi Agar Tak Dibobol Orang untuk Kejahatan

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan, penetrasi konten-konten di dunia maya amat dinamis, termasuk jika berbicara hal yang berkaitan dengan asusila.

Menurut Rudiantara, perlu strategi yang komprehensif dan terintegrasi.   

“Sesuatu yang diatur tetapi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, memang menjadi senantiasa dinamis. Dari waktu ke waktu bisa berbeda, katakanlah yang berkaitan dengan asusila,” kata Rudiantara dalam acara Sarasehan Nasional Penanganan Konten Asusila di Dunia Maya di Museum Nasional, Jakarta, Senin (12/8/2019). 

BACA JUGA: Tertarik Diamond, Mona Terperdaya Penipu via Online

Dia menjelaskan, dalam menangani persoalan ini, butuh pembinaan dan pendekatan langsung dengan pihak-pihak terkait. Tidak bisa langsung melakukan justifikasi.

“Pembinaan itu artinya dipanggil dulu, undang dulu, sebaiknya jangan kayak begini. Nah, itu yang dikedepankan oleh Kominfo. ” jelas Rudiantara.  

Konten pornografi, perjudian, dan radikalisme sangat tinggi di Indonesia.
Konten pornografi, perjudian, dan radikalisme sangat tinggi di Indonesia.

Penanganan yang tepat juga dibutuhkan karena saat ini  pengguna internet di Indonesia sudah lebih dari 170 juta orang, mayoritas ialah anak-anak.

“Kita harus hindari posting konten-konten yang diperkirakan akan menuai kontroversi dan berdampak negatif,” imbau Rudiantara.

Rudiantara menambahkan, penanganan konten seperti radikalisme dan terorisme memiliki lembaga khusus yakni BNPT. Begitupun dengan narkoba ada BNN, peredaran obat makanan ada BPOM. Sementara, belum ada lembaga yang secara khusus menangani konten asusila.

Harus berdasar hukum

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.