Indonesia Selidiki Produk Antidumping BJLAS dari China dan Vietnam

Baja Lapis Seng Aluminium (BJLAS)
Baja Lapis Seng Aluminium (BJLAS)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

JAKARTA, SURYAKEPRI.COM – Indonesia memulai penyelidikan antidumping produk impor baja lapis alumunium seng (BJLAS) dari China dan Vietnam.

Ketua Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Bachrul Chairi menyampaikan bahwa KADI telah memulai penyelidikan pada Senin (26/8/2019) terhadap produk dengan pos tarif 7210.61.11, 7212.50.23, 7212.50.24, 7212.50.29, 7225.99.90, 7226.99.19 dan 7226.99.99.

“KADI telah menyampaikan informasi terkait dimulainya penyelidikan tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti industri dalam negeri, importir, eksportir/produsen, serta perwakilan pemerintah negara yang dituduh,” kata Bachrul.

“Bagi pihak yang berkepentingan diberikan kesempatan untuk menyampaikan tambahan informasi, tanggapan secara tertulis, dan/atau permintaan dengar pendapat (hearing) yang berkaitan dengan penyelidikan dan kerugian,” imbuh dia.

Dasar hukum penyelidikan yaitu Pasal lima Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2011 tentang Tindakan Antidumping, Tindakan Imbalan, dan Tindakan Pengamanan Perdagangan, Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 76/M-DAG/PER/12/2012 tentang Tata Cara Penyelidikan dalam Rangka Pengenaan Tindakan Antidumping dan Tindakan Imbalan, dan Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 53/M-DAG/PER/9/2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 76/M-DAG/PER/12/2012.

Selama tiga tahun terakhir, total impor Indonesia untuk produk BJLAS asal China dan Vietnam mengalami tren peningkatan sebesar 27 persen.

Pada 2018, total impor Indonesia dari kedua negara tertuduh tercatat sebesar 748.400 MT, meningkat dari tahun 2016 yang tercatat sebesar 463.375 MT.

Sementara, pangsa impor dari kedua negara tersebut memiliki nilai dominan sebesar 90 persen dari total impor BJLAS indonesia.

Dua tahun silam, Asosiasi Roll Former Indonesia (ARFI) menyatakan bahwa Indonesia defisit sekitar 200 ribu ton BJLAS per tahun karena kapasitas produksi lebih rendah dibanding tren konsumsi.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.