Merinding Lihat Pertarungan Bangsa China Melawan Virus Corona

Seorang petani membersihkan sayuran di sebuah taman logistik produk pertanian di Shouguang, Provinsi Shandong Tiongkok timur, 1 Februari 2020. (Xinhua / Guo Xulei)
Seorang petani membersihkan sayuran di sebuah taman logistik produk pertanian di Shouguang, Provinsi Shandong Tiongkok timur, 1 Februari 2020. (Xinhua / Guo Xulei)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SHOUGUANG, SURYAKEPRI.COM – Merinding melihat bagaimana seluruh elemen di China bersatu, bergerak secara simultan melawan wabah virus Corona baru (2019-nCov).

Ini telah menjadi gerakan solidaritas massal. Menjadi gerakan patriotisme bangsa Tiongkok. Tidak ada lagi yang berpangku tangan dan sibuk memprotes macam-macam. Semua bergerak demi menyelamatkan bangsa yang besar ini.

Pemerintah China memegang komando. Semua elemen masyarakat, militer, masyarakat sipil, para petugas medis, para peneliti, kontraktor, pabrik-pabrik,  pekerja pabrik, hingga tukang dan para petani, bahu-membahu ambil bagian dalam perang besar ini.

Orang-orang mengabaikan hari libur, mengurangi jam tidur, bekerja siang-malam membangun rumah sakit dari tanah kosong hingga berdiri gedung rumah sakit berkapasitas 1.000 tempat tidur.

Semua parbrik bergerak memproduksi apapun yang bisa membantu melawan wabah. Para tentara ikut menangani pasien menopang para petugas medis.

Para petugas medis dari berbagai wilayah bergerak menuju episentrum wabah Corona di Wuhan kendati harus meninggalkan orang-orang yang dikasihi.

Sementara para ilmuwan, peneliti di kampus-kampus, terus melakukan penelitian secara cepat untuk menemukan vaksin dan obat-obatan untuk mengtasi virus mematikan ini.

Sampai para petani pun berusaha maksimal menghasilkan bahan makanan untuk memastikan pasokan tidak terputus.

Petani di kota Shouguang, Provinsi Shandong, basis produksi sayuran utama Tiongkok, berkontribusi menyediakan sayuran untuk Wuhan.

Sang Xuemei, seorang petani di Desa Sangjiazhuang, bangun sekitar jam 3:00 pagi, mengenakan headlamp dan berjalan ke ladang.

“Setiap keluarga telah membeli lampu kepala untuk memetik sayuran dalam gelap,” katanya. “Kami biasa memetik sayuran di sore hari, tetapi kami mengubah jadwal untuk mengirimkan sayuran segar ke Wuhan.”

Dua jam kemudian, dia mengirim 250 kg mentimun yang baru dipetik ke pusat pemeriksaan produk pertanian di koperasi desa di mana anggota koperasi sibuk memuat sayuran ke truk yang menuju Wuhan setelah mereka diperiksa.

“China sedang berjuang melawan epidemi, dan kami sebagai petani harus memastikan bahwa orang dapat makan sayuran seperti biasa,” tambahnya.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.