China Pakai CT Scan Deteksi Virus Corona

Model pakaian pelindung yang dikenakan petugas medis saat menangani pasien terinfeksi virus corona di Wuhan, China. (Foto: Xinhua)
Model pakaian pelindung yang dikenakan petugas medis saat menangani pasien terinfeksi virus corona di Wuhan, China. (Foto: Xinhua)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM –  Otoritas kesehatan Hubei, China, melaporkan jumlah kasus virus corona atau Covid-19 pada Kamis (15/2/2020), menjadi 14.840 kasus dengan jumlah korban tewas sebanyak 242 orang.

Jumlah kasus itu meningkat signifikan dari hari-hari sebelumnya sejak pertama kali diketahui pada Desember 2019.

Melansir Business Insider, Komisi Kesehatan Hubei mengatakan kenaikan kasus secara signifikan bukan karena Covid-19 menjadi lebih agresif.

Kenaikan itu terjadi lantaran mereka mengubah cara mendeteksi Covid-19 di tubuh manusia.

Komisi Kesehatan Hubei mengaku tidak lagi mengandalkan tes darah untuk mendeteksi virus Covid-19 yang hasilnya memakan waktu berhari-hari. Mereka mengaku saat ini menggunakan CT (computed tomography) scan guna melihat secara langsung organ pasien yang diduga terjangkit Covid-19.

Peralihan metode deteksi diduga terjadi karena Komisi Kesehatan Hubei kekurangan alat tes yang semula digunakan.

CT scan dilakukan terhadap organ paru-paru pasien. Sebab, Covid-19 diketahui menyerang paru-paru dan ginjal.

Ahli radiologi di Universitas Thomas Jefferson, Paras Lakhani sebaran virus Covid-19 di dalam paru-paru berbeda dengan virus pada umumnya. Dia berkata virus Covid-19 meluar hingga ke tepi paru-paru.

“Itu sesuatu yang jarang kita lihat. Kami melihat itu di severe acute respiratory syndrome (SARS) dan Middle East respiratory syndrome (MERS),” ujar Lakhani.

SARS dan MERS merupakan bagian dari virus corona. Wabah itu mengakibatkan 8.000 kasus dan 774 kematian dari November 2002 hingga Juli 2003.

Lakhani mengatakan CT scan adalah satu dari lima hal yang diperlukan untuk membuat diagnosis, bersama dengan gejala, riwayat klinis, perkembangan penyakit, dan tes laboratorium.

Studi baru dari The Lancet menemukan bahwa Covid-19 dapat menyebabkan sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS) yang seringkali berakibat fatal.

Baca Juga: Demi UAS, Warga Rela Jalan Dini Hari, Sholat Subuh di Masjid Karimun Membeludak

Baca Juga: Sepi Peminat, Tim Penjaringan KONI Kepri Beri Batas Waktu Sampai Pukul 00.00 WIB

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.