Warga Inggris Panik, Serbu Supermarket “Jarah” Kebutuhan Pokok

Pembeli memandang rak yang nyaris kosong di sebuah supermarket di London, Inggris. Ketakutan akan wabah virus corona membuat warga Inggris yang panik menyerbu supermaerket untuk memborong kebutuhan rumah tangga. (JUSTIN TALLIS / AFP)
Pembeli memandang rak yang nyaris kosong di sebuah supermarket di London, Inggris. Ketakutan akan wabah virus corona membuat warga Inggris yang panik menyerbu supermaerket untuk memborong kebutuhan rumah tangga. (JUSTIN TALLIS / AFP)

LONDON, SURYAKEPRI.COM – Warga Inggris panik akibat wabah coronavirus desease (Covid-19), ramai-ramai serbu supermarket dan “menjarah” rak-rak hingga kosong.

Situasi ini mirip ketika Pemerintah Singapura menaikkan level Disease Outbreak Response System Condition’ (DORSCON) dari kuning menjadi orange pada awal Februari lalu.

Pasar swalayan di negeri Ratu Elisabeth pun telah meminta konsumen untuk lebih peduli dan menegaskan kembali bahwa mereka memiliki persediaan yang memadai.

Pengecer bahan makanan terkemuka di negara itu, termasuk Tesco, Sainsbury’s, dan Waitrose, menulis surat bersama kepada pelanggan, yang dimuat di surat kabar pada hari Minggu dan Senin (16 Maret) mengimbau masyarakat untuk tenang.

“Kami membutuhkan bantuan Anda,” tulis mereka. “Kami mengimbau semua orang untuk mempertimbangkan cara mereka berbelanja. Stok cukup untuk semua orang jika kita semua bekerja sama.”

Toko-toko Inggris telah dibanjiri pembeli selama lebih dari seminggu. Orang-orang panik membeli kertas toilet dan barang-barang tahan lama seperti pasta dan makanan kaleng.

Belanja online, pilihan populer di Inggris, telah terganggu, dengan waktu tunggu yang lama untuk pengiriman yang dijadwalkan dan beberapa situs web supermarket ‘hang’ karena tingginya permintaan.

Morrisons mengatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menerapkan “batas pembelian sementara” pada produk-produk tertentu dengan permintaan tinggi, sambil meningkatkan pasokan bahan kebersihan dan makanan pabrikan.

Waitrose akan memperkuat stafnya dengan mengarahkan 500 karyawan dari department store John Lewis, yang merupakan bagian dari kelompok induk yang sama.