Bantah Gagasan Kekebalan Kawanan, WHO: Manusia Bukan Kawanan

Ilustrasi kekebalan kawanan atau Herd Immunity (shutterstock)
Ilustrasi kekebalan kawanan atau Herd Immunity (shutterstock)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM -Badan Kesehatan Dunia (WHO) membantah gagasan kekebalan kawanan (herd immunity), teori yang diyakini Swedia, sehingga negeri Skandinavia itu menolak melakukan penguncian karena merasa yakin hampir mencapai herd immunity terhadap virus corona baru (SARS-CoV-2).

Virus corona baru telah menginfeksi lebih dari 4,2 juta orang di seluruh dunia, dimana Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang paling parah dilanda wabah ini.

Sayangnya, belum ada obat untuk mengobati COVID-19, penyakit mematikan akibat infeksi virus corona, yang sejak Desember hingga saat ini telah menewaskan lebih dari 287.000 orang di seluruh dunia.

Dengan belum ditemukannya vaksin, konsep ‘kekebalan kawanan’ sedang dibahas secara luas.

Menurut konsep tersebut, jika cukup banyak orang dalam suatu masyarakat (yaitu ‘kawanan’) kebal terhadap suatu penyakit, secara alami atau melalui vaksinasi, penyakit ini lebih kecil kemungkinannya untuk menginfeksi mereka.

Menanggapi teori itu, pada Senin (11/5/2020), WHO memperingatkan soal konsep ini dengan menyatakan bahwa itu adalah “perhitungan yang sangat berbahaya”.

“Hati-hati terhadap konsep ‘kekebalan kawanan’,” kata Michael Ryan, Direktur Eksekutif Program Keadaan Darurat Kesehatan WHO.

“Gagasan ini bahwa mungkin negara-negara yang rentan dan belum melakukan apa-apa akan tiba-tiba secara ajaib mencapai kekebalan kawanan – tapi bagaimana jika kita kehilangan beberapa orang tua di sepanjang jalan? Ini adalah perhitungan yang sangat berbahaya. Berbahaya,” imbuh Ryan.

“Manusia bukan kawanan” dan menerapkan standar yang sama kepada manusia “dapat menyebabkan aritmatika yang sangat brutal yang tidak menempatkan manusia dan kehidupan dan penderitaan di titik persamaan itu,” sambung Ryan.

Konsep kekebalan kawanan diterapkan pada manusia hanya ketika para ilmuwan menentukan berapa banyak individu yang perlu divaksinasi bagi masyarakat untuk mencapai tingkat kekebalan tertentu, kata pejabat WHO.

Asumsi bahwa sebagian besar populasi global telah terinfeksi dan telah mengalami gejala COVID-19 yang lebih ringan juga terbukti salah oleh studi epidemiologi awal, tambahnya.

Juga, “proporsi klini yang parah sebenarnya adalah proporsi yang lebih tinggi dari semua yang telah terinfeksi,” katanya lebih lanjut.

Menyindir Swedia?

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.