Warga Tionghoa-Indonesia di Belanda Masih Sangat Rindu Pulang Kampung

Huihan Lie bersama istri dan anak-anaknya. (Foto: Istimewa/SCMP)
Huihan Lie bersama istri dan anak-anaknya. (Foto: Istimewa/SCMP)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM – Warga Tionghoa-Indonesia yang telah menjadi warga negara Belanda ternyata masih sangat rindu “pulang kampung” ke Indonesia setelah puluhan tahun mengungsi ke negeri Kincir Angin.

Jurnalis Randy Mulyanto menuliskan kisah ini dengan mewawancarai sejumlah warga Tinghoa-Indonesia di Belanda dan laporannya diterbitkan di South China Morning Post (SCMP) sebagaimana dikutip Suryakepri.com, Senin (4/1/2021).

Disebutkan bahwa pengalaman diaspora Tionghoa-Indonesia di Belanda belum terdokumentasi sebaik mereka yang bermukim di Hong Kong dan Singapura.

Namun dijelaskan bahwa banyak di antara orang Tionghoa-Indonesia di Belanda ‘masih hidup di atmosfer’ Indonesia, meski sudah bertahun-tahun berlalu.

Seperti pengusaha bernama Huihan Lie (42), dibesarkan di provinsi Belanda di Gelderland dan Groningen dan merasa “aneh” ketika menyadari bahwa ia adalah satu-satunya siswa keturunan Tionghoa di kelasnya yang fasih berbahasa Belanda dan memiliki latar belakang Indonesia.

BACA JUGA:

Dia bahkan tidak bisa menyatu dengan beberapa siswa lain di sekolahnya atau di desanya yang bermigrasi dari China daratan dan memiliki orang tua yang berbicara bahasa Mandarin atau bahasa China lainnya di rumah mereka.

Ayahnya kelahiran Surabaya dan ibu kelahiran Jakarta, sudah merantau ke Belanda saat masih anak-anak bersama keluarganya pada tahun 1949.

Huihan Lie, depan dengan sepeda mainan merah, dalam foto sekolah bersama teman-teman sekelasnya di Belanda ketika dia masih kecil. (Foto: Istimewa/SCMP)
Huihan Lie, depan dengan sepeda mainan merah, dalam foto sekolah bersama teman-teman sekelasnya di Belanda ketika dia masih kecil. (Foto: Istimewa/SCMP)

Kakek dari pihak ayah, yang menjual tembakau ke pabrik cerutu Eropa, percaya ada masa depan yang lebih cerah di sana, karena ia dan keluarganya fasih berbahasa Belanda, dibesarkan di Indonesia di bawah pemerintahan kolonial Belanda, yang berlangsung selama beberapa ratus tahun sebelumnya.

Kemudian Jepang menduduki negara itu selama Perang Dunia II.  Indonesia merdeka pada tahun 1945.

Ayah dan ibu Lie tidak mengenal satu sama lain sampai mereka bertemu di Belanda sekitar tahun 1950-an.

Ayahnya saat ini tinggal di Singapura dan ibunya tetap di Belanda setelah keduanya bercerai.

Mereka tidak bisa berbahasa Hokkien atau Mandarin, dan tumbuh dewasa pasangan tersebut mengekspos makanan Tionghoa-Indonesia yang mereka miliki di Indonesia.

“Sangat sedikit unsur Tionghoa yang ada dalam diri saya, selain nama Tionghoa saya dan makan mi panjang umur pada hari ulang tahun saya,” katanya, mengacu pada adat istiadat Tionghoa Han yang masih dipraktikkan banyak orang hingga hari ini.

Tetapi Lie, yang pindah ke Beijing pada tahun 2004 untuk belajar bahasa Mandarin dan bekerja untuk lembaga pemerintah dan swasta selama beberapa tahun sebelum mendirikan My China Roots pada tahun 2012, sebuah perusahaan penelitian leluhur yang berfokus pada warisan Tiongkok, mengatakan bahwa ia masih memiliki kedekatan dengan Indonesia, meskipun eksposurnya ke negara itu “terbatas”.

Dalam perjalanan kembali ke kota asal ayahnya di Surabaya yang biasa dia lakukan setiap tahun ketika dia masih muda dan juga sebagai orang dewasa, dia menghabiskan waktu dengan sepupu Tionghoa-Indonesia, yang beragama Kristen dan suka nongkrong di pusat perbelanjaan.

“Ada unsur-unsur tertentu di Indonesia yang saya cintai dan itu adalah dasar dari diri saya,” kata Lie, yang merupakan ayah dua anak dengan istri yang berasal dari Irlandia.

Tetap Rindu Pulang ke Indonesia 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.