Jutaan Pengguna WhatsApp Eksodus ke Signal dan Telegram Gegara Buruknya Komunikasi soal Pembaruan Persyaratan

Penulis: Eddy Mesakh

Logo WhatsApp (Foto: Guardian)
Logo WhatsApp (Foto: Guardian)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM – WhatsApp dinilai telah menjalankan perubahan yang buruk mengakibatkan platform chatting itu kehilangan jutaan pengguna. WhatsApp terpaksa menunda jadwal perubahan persyaratannya.

Pembaruan yang dilakukan WhatsApp pada persyaratan layanan telah membuat jutaan penggunanya berbondong-bondong beralih ke layanan pesaing

Guardian menulis bahwa WhatsApp (WA) membuat penjelasan tentang perubahan persyaratan layanannya dengan cara yang buruk, akibatnya jutaan pengguna beralih ke layanan alternatif seperti Signal dan Telegram.

Eksodus sangat besar sehingga WhatsApp terpaksa menunda penerapan persyaratan baru, yang telah dijadwalkan pada 8 Februari 2021, dan menjalankan kampanye pembatasan kerusakan untuk menjelaskan kepada pengguna mengenai perubahan yang mereka buat.

BACA JUGA:

Selama tiga minggu pertama Januari, Signal telah memperoleh 7,5 juta pengguna secara global, menurut angka yang dibagikan oleh komite urusan dalam negeri parlemen Inggris, dan Telegram telah memperoleh 25 juta.

Dalam kedua kasus tersebut, peningkatan tampaknya datang akibat kecerobohan WhatsApp.

Data yang dilacak oleh perusahaan analitik App Annie menunjukkan WhatsApp jatuh dari aplikasi kedelapan yang paling banyak diunduh di Inggris pada awal bulan ke 23 pada 12 Januari.

Sebaliknya, Signal bahkan tidak berada di 1.000 aplikasi teratas di Inggris pada 6 Januari 2021, namun pada 9 Januari 2021 telah menjadi aplikasi yang paling banyak diunduh di negeri Ratu Elizabeth.

Niamh Sweeney, direktur kebijakan publik WhatsApp untuk Eropa, Timur Tengah, dan Afrika, mengatakan kepada komite urusan dalam negeri bahwa eksodus itu diyakini terkait dengan pembaruan persyaratan layanan perusahaan.

Dia mengatakan bahwa pembaruan itu dimaksudkan untuk melakukan dua hal: mengaktifkan serangkaian fitur baru seputar perpesanan bisnis, dan “membuat klarifikasi dan memberikan transparansi yang lebih besar” seputar kebijakan perusahaan yang sudah ada sebelumnya.

“Tidak ada perubahan pada berbagi data kami dengan Facebook di mana pun di dunia,” kata Sweeney.

Tetapi setelah postingan viral – ironisnya, tersebar luas di WhatsApp – mengklaim bahwa kebijakan privasi malah memberi layanan hak untuk membaca pesan pengguna dan menyerahkan informasi tersebut ke perusahaan induknya Facebook, WhatsApp mengumumkan penundaan dalam penerapan persyaratan baru layanan pepesanan itu.

“Kami ingin memperjelas bahwa pembaruan kebijakan tidak memengaruhi privasi pesan Anda dengan teman atau keluarga dengan cara apa pun,” kata WhatsApp dalam pembaruan yang diposting ke situsnya, yang membayar untuk beriklan di Google di bawah pencarian “kebijakan privasi WhatsApp”.

Perusahaan mengatakan akan menunda implementasi kebijakan barunya hingga 15 Mei 2021.

Direktur wawasan pasar App Annie, Amir Ghodrati, mengatakan bergerak cepat itu penting.

“Jenis peralihan dalam aplikasi perpesanan dan jejaring sosial ini bukanlah hal yang aneh. Karena sifat dasar aplikasi sosial dan bagaimana fungsi utamanya melibatkan komunikasi dengan orang lain, perkembangannya sering kali dapat bergerak cukup cepat, berdasarkan peristiwa terkini.”

“Kami telah melihat permintaan yang meningkat selama beberapa tahun terakhir untuk pesan terenkripsi dan aplikasi yang berfokus pada privasi. ”

Pergeseran ke aplikasi pepesanan yang lebih berfokus pada privasi telah dibangun sebelum bencana hubungan masyarakat WhatsApp, kata Ghodrati.

“Aplikasi pepesanan yang menyediakan fitur privasi mengalami pertumbuhan keterlibatan terbesar pada [paruh pertama] tahun 2020. Aplikasi ini mencapai rata-rata 30% lebih banyak pengguna aktif daripada alternatif.”

“Aplikasi seperti Signal, Telegram, Wickr, dan WhatsApp menawarkan fitur privasi mulai dari transfer data terenkripsi ujung ke ujung hingga ‘pesan yang merusak diri sendiri’ [menghilang otomatis].”

Ironisnya, dalam beberapa hal WhatsApp lebih fokus pada privasi daripada pesaingnya, Telegram.

Yang pertama menerapkan enkripsi ujung ke ujung (end-to-end encryption) – yang mencegah penyedia layanan untuk dapat mengakses pesan pengguna – secara default untuk setiap obrolan kecuali antara pengguna dan bisnis besar.

Sementara itu, Telegram hanya mengaktifkan enkripsi end-to-end untuk “obrolan rahasia”, sebuah opsi yang harus dipilih secara aktif oleh pengguna untuk setiap kontak.

Obrolan semacam itu “dimaksudkan untuk orang yang menginginkan lebih banyak kerahasiaan daripada orang kebanyakan”, jelas layanan tersebut dalam Frequently Asked Questions (FAQ) mereka. (*)

WhatsApp, WA, Telegram, Signal, Wickr, Facebook, Platform Media Sosial, Surya Kepri, Teknologi Informasi 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.