Pandemi Covid-19: Buka-tutup Sekolah, Kita Pura-pura Tidak Melihat Tsunami Menuju Pantai?

Atau justru kita melihat tsunami itu sedang bergulung-gulung datang, tetapi kita menutup mata dan membiarkan orang-orang berjalan menuju maut?

Ilsutrasi Tsunami (Tangkapan Layar Youtube)
Ilsutrasi Tsunami (Tangkapan Layar Youtube)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

PROGRAM vaksinasi sedang berjalan dan masih akan terus berjalan sampai kita menemukan keyakinan ilmiah bahwa pandemi ini sudah berlalu. Atau setidaknya, SARS-CoV-2 si virus penyebab penyakit Covid-19, itu sudah bukan lagi ancaman mematikan.

Di sini saya tidak sedang menyorot perilaku masyarakat kita yang “semakin berani” dengan sikap yang relatif cuek terhadap bahaya Covid-19. Orang-orang tampaknya tidak takut mati, seperti sebuah anekdot di TikTok yang menjawab santai: “Mati tanam!”

Sekali lagi, bukan itu yang ingin saya sorot di sini.

Saya lebih menyoroti perilaku, dalam hal ini permainan kebijakan pemerintahsoal buka-tutup sekolah. Kita coba-coba buka sekolah tatap muka dengan segala teori protokol kesehatan (yang tidak ada jaminan itu dipatuhi, terutama oleh para murid), lalu kemudian menutup lagi sekolah saat menemukan ada kasus baru.

BACA JUGA:

Seperti praktik buka-tutup sekolah yang dilakukan di Kabupaten Karimun dan Kota Batam dalam beberapa waktu belakangan.

Ketika menemukan kasus 2-3 siswa positif Covid-19, pejabat maju dan berkata di depan media massa bahwa “itu bukan cluster sekolah. Itu berasal dari cluster keluarga.”

Logika aneh ini, seolah-olah jika itu bukan cluster sekolah maka bukan masalah serius. Pertanyaannya, apakah 2-3 murid itu tidak akan menularkan virusnya kepada murid-murid yang lain? Kemudian murid-murid yang lain membawa pulang virus itu kepada orangtua dan keluarganya di rumah… dan seterusnya.

Saya mendengar keluhan seorang warga di sebuah radio swasta beberapa hari lalu. Dia mengungkapkan bahwa dirinya melihat banyak anak-anak berkerumum membeli jajan ketika bubaran sekolah. Ini bukti bahwa kita tidak mampu mengontrol penerapan protokol kesehatan bisa dijalankan secara baik di sekolah.

Padahal, kita sama sekali tidak tahu ada berapa banyak kasus tanpa gejala di luar sana.

Ambil contoh kasus di Kota Batam. Sampai tanggal 3 April 2021, jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 6.194 kasus, terbagi atas 2.979 kasus bergejala dan 2.296 kasus tidak bergejala. Lihat perbedaannya begitu tipis. Hanya selisih 683.

Itu setidaknya menggambarkan bahwa kasus tidak bergejala mungkin saja sebanyak yang bergejala. Atau bisa saja lebih banyak.

Dugaan ini bisa menjadi benar diperkuat dengan perbandingan antara populasi dan jumlah pengujian yang dilakukan.

Dengan populasi Kota Batam sebesar 1,3 juta orang, menurut data Gugus Tugas per 3 April 2021, kita hanya melakukan sebanyak 35.359 atau hanya 2,6 persen!  Sampel itu jelas tidak mewakili populasi, mengingat – dugaan saya –  karena ini bukan sebuah penelitian, maka sampel tersebut bukan cuplikan yang disengaja untuk mengukur tingkat penularan, melainkan hanya berdasar tracing ketika menemukan adanya kasus.

Pertanyaannya, ada berapa banyak kasus di luar sana yang tidak terlacak?

Lalu dengan kebijakan trial & error ini, apakah kita sedang sengaja membiarkan masyarakat head on dengan tsunami Covid-19 ini?

Zaman sudah begini maju. Begitu banyak riset, apalagi riset tentang Covid-19 dengan segala rekomendasinya, hanya menjadi catatan di atas meja. Sementara dalam praktiknya kita tetap menggunakan prinsip “trial & error”.

Seperti judul tulisan ini di atas:  “Buka-tutup Sekolah, Apakah Kita Pura-pura Tidak Melihat Tsunami Menuju Pantai?”

Atau justru kita melihat tsunami itu sedang bergulung-gulung datang, tetapi kita menutup mata dan membiarkan orang-orang berjalan menuju maut?

Dengan menerapkan prinsip “coba-coba” seperti ini, kita akan tetap berada dalam perjalanan panjang tanpa ujung untuk bisa keluar dari bencana pandemi ini.

Padahal, sebenarnya kita semua sudah melihat cahaya di ujung lorong, yakni melalui vaksinasi. Dengan sedikit kesabaran dengan tetap ketat menjalankan protokol kesehatan, sambil terus menggenjot upaya vaksinasi, kita akan mencapai ujung lorong itu. Faktanya kita justru berputar-putar di tempat.

Teringat artikel yang pernah saya tulis di awal pandemi tentang penggunaan masker. Waktu itu juga kita tidak tegas soal ini. Ketika kasusnya semakin melonjak, baru lah kita mulai memaksa warga untuk mengenakan masker.

Sikap kita hari-hari ini terhadap bahaya virus corona begitu enteng. Sementara virus ini juga diam-diam terus bermutasi, seperti munculnya varian baru B.1.1.7 di Inggris yang lebih menular juga kemampuan membunuh yang lebih tinggi.

Jadi jelas bahwa santainya kita belakangan ini, akan kita petik hasilnya dalam beberapa bulan ke depan. Itu akan menyakitkan. Tetapi penyesalan memang selalu datang terlambat, kan?

Saran  penulis, untuk saat ini kita menahan diri dulu soal sekolah tatap muka, meski para orang tua murid sudah bosan dan lelah mengajar anak-anak di rumah.

Kita menginginkan anak-anak kita menjadi pintar dan kelak berhasil dalam hidupnya.  Tetapi apa gunanya jika mereka (dan kita semua) sedang berjalan menantang tsunami yang sedang bergulung ke arah kita? (*)

Penulis: Eddy Mesakh | Redaktur Suryakepri.com

Buka-tutup Sekolah, Kebijakan Pemerintah, Tsunami Menuju Pantai, Pandemi Covid-19, SARA-CoV-1, Vaksinasi, Protokol Kesehatan, Kota Batam, Kepri, Surya Kepri, Kabupaten Karimun

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.