Vaksin AstraZeneca Lebih Murah Karena Penemunya Enggan Ambil Hak Paten

Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca.(UNIVERSITY OF OXFORD)
Sarah Gilbert, salah satu ilmuwan pencipta vaksin AstraZeneca.(UNIVERSITY OF OXFORD)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

LONDON, SURYAKEPRI.COM – Agar vaksin AstraZeneca lebih murah, penemu vaksin AstraZeneca, Dame Sarah Gilbert, enggan mengambil penuh hak paten atas hasil temuannya.

“Saya ingin buang jauh-jauh gagasan itu (mengambil hak paten penuh), agar kita bisa berbagi kekayaan intelektual dan siapa pun bisa membuat vaksin mereka sendiri,” ujar wanita berusia 59 tahun itu ke parlemen Inggris, dikutip dari Reuters, 11 Maret 2021.

Kala itu sedang ada pembahasan tentang siapa pemegang hak paten vaksin Covid-19 nantinya.

Developing Countries Vaccine Manufacturers Network (DCVMN) yang mendukung lebih banyak produksi untuk negara-negara miskin, juga sepakat dengan Prof Gilbert. “Bukan kekayaan intelektual tunggal yang bisa membuat produk (vaksin) ini,” ujar Presiden DCVMN, Sai Prasad, yang juga petinggi di produsen vaksin India, Bharat Biotech.

Sejalan dengan pemikiran Sarah Gilbert, AstraZeneca pun meneken persetujuan dengan Oxford untuk tidak mengambil profit dari vaksin corona buatan mereka. “Tudingan bahwa kami menjual ke negara lain untuk menghasilkan lebih banyak uang tidak benar, karena kami tidak mengambil profit di mana-mana,” ungkap CEO AstraZeneca, Pascal Soriot, dikutip dari Health Policy 28 Januari 2021. “Itu kesepakatan yang kami miliki dengan Universitas Oxford.”

AstraZeneca menyatakan, mereka baru akan menentukan harga setelah pandemi Covid-19 usai, menurut keterangan juru bicaranya kepada Kaiser Health News, 25 Agustus 2020. “(Kami) berkomitmen memastikan akses yang adil, secara global,” ujarnya.

Keputusan ini berdampak pada harga vaksin AstraZeneca yang lebih murah dari kompetitor mereka.

Mengutip artikel Kompas.com pada 12 Desember 2020, berikut adalah perbandingan kisaran harga-harga vaksin virus corona per dosis yang kini telah digunakan.

Oxford-AstraZeneca: Rp 56.000 per dosis
Johnson & Johnson dan Sputnik V: Rp 141.000
Sinovac: Rp 200.000 per dosis
Novavax: Rp 226.000 per dosis
Pfizer-BioNTech: Rp 283.000 per dosis
Moderna: Rp 526.000 per dosis

Meski yang termurah, efikasi atau kemanjuran vaksin AstraZeneca cukup tinggi, termasuk mencegah infeksi Covid-19 varian Delta hingga 92 persen.

BACA:Presiden Jokowi Resmi Batalkan Vaksin Berbayar

BACA:Polresta Barelang Berhasil Menangkap Tim Relawan Validasi Data Vaksin yang Bermain Curang

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.