Dituduh Invasi Ukraina, Rusia Tegaskan Tak Ingin Berperang

Editor : Sudianto Pane

Ilustrasi -- Konvoi kendaraan lapis baja Rusia di Crimea, yang dicaplok dari Ukraina tahun 2014 lalu (dok. AP)
Ilustrasi -- Konvoi kendaraan lapis baja Rusia di Crimea, yang dicaplok dari Ukraina tahun 2014 lalu (dok. AP)
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM – Ketegangan yang terus meningkat di Ukraina, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov, menegaskan negaranya tidak menginginkan perang. Namun Lavrov juga menyatakan bahwa Rusia tidak akan membiarkan kepentingannya diabaikan.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (29/1/2022), negara-negara Barat menuduh Rusia mengumpulkan 100.000 tentaranya di dekat perbatasan Ukraina dan mengancam sanksi yang belum pernah ada sebelumnya jika Rusia sungguh-sungguh menginvasi negara tetangganya itu.

“Jika itu tergantung pada Rusia, tidak akan ada perang. Kami tidak menginginkan perang,” tegas Lavrov dalam wawancara dengan kepala empat stasiun radio Rusia.

.Baca : Kondisi Kian Memanas Antara Rusia dan Ukraina, Sri Mulyani: Dapat Memicu Perang Dunia III

.Baca : Sebut Prabowo ‘Macan Jadi Mengeong’ Edy Mulyadi Dilaporkan di Bali

“Kami juga tidak akan membiarkan kepentingan kami diabaikan,” imbuhnya.

Pernyataan itu disampaikan setelah Amerika Serikat (AS) dan NATO merespons tuntutan keamanan yang dilontarkan Rusia sebagai pertukaran atas deeskalasi ketegangan terkait Ukraina. Tuntutan itu termasuk larangan Ukraina bergabung NATO dan larangan pangkalan militer baru di bekas negara-negara Soviet.

Pada Kamis (27/1) waktu setempat, Rusia mengeluhkan pandangannya tidak dibahas dalam tanggapan yang diterimanya, namun tidak mengesampingkan adanya pembicaraan lanjutan.

Lavrov, pada Jumat (28/1) waktu setempat, menyebut respons AS mengandung ‘butir-butir rasionalitas’ soal isu-isu sekunder. Dia menyindir bahwa respons AS ‘hampir merupakan contoh kepatutan diplomatik’ sedangkan respons NATO sangat ‘ideal’.

“Saya sedikit malu untuk orang-orang yang menulis teks ini,” sebut Lavrov.

Lebih lanjut disebutkan Lavrov bahwa penjatuhan sanksi-sanksi Barat, termasuk langkah personal terhadap Presiden Vladimir Putin dan memotong Rusia dari sistem pembayaran SWIFT, akan ‘setara dengan memutuskan hubungan’ dengan Rusia.

“Saya pikir ini bukan kepentingan siapapun,” pungkasnya.(*)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.