Ancaman Omicron BA.4 dan BA.5, Indonesia Perketat Aturan Pakai Masker Lagi?

Editor : Sudianto Pane

foto Ilustrasi
foto Ilustrasi
Want create site? With Free visual composer you can do it easy.

SURYAKEPRI.COM – Kemunculan empat kasus subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang terdeteksi di Indonesia menimbulkan kekhawatiran di tengah pelonggaran masker yang diberlakukan. Apalagi terjadi kenaikan kasus COVID-19 dalam tiga pekan terakhir?

Lantas, apakah aturan penggunaan masker akan diperketat lagi? Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia Mohammad Syahril menanggapi kebijakan pelonggaran masker akan terus dievaluasi.

“Jadi, pelonggaran pakai masker di luar ruangan terbuka, itu tetap akan dievaluasi. Apabila ada peningkatan kasus karena varian baru, maka akan diperketat lagi,” Syahril saat konferensi pers Update Perkembangan COVID-19 di Indonesia di Gedung Kementerian Kesehatan Jakarta pada Jumat, 10 Juni 2022.

.Baca : Menkes Ungkap Penggunaan Masker akan Menjadi Pilihan Masing-masing Individu

“Selain protokol kesehatan, upaya utama dengan vaksinasi COVID-19, tentu saja kita enggak ingin lonjakan kasus lagi. Pengetatan ini kembali ke masing-masing orang.”

Masyarakat diperbolehkan tidak menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Kebijakan ini berlaku efektif sejak Rabu, 18 Mei 2022.

Kebijakan pelonggaran yang dikeluarkan Pemerintah tetap harus dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Terlebih, saat ini dunia belum sepenuhnya terbebas dari COVID-19, sehingga potensi penularan virus Corona tetap ada.

Ada beberapa ketentuan yang tetap harus diperhatikan masyarakat agar situasi Covir-19 tetap terkendali. Masyarakat yang diperbolehkan lepas masker adalah mereka kondisi tubuhnya sehat. Bagi lansia, orang dengan penyakit penyerta dan orang yang sakit flu dengan gejala batuk dan pilek diminta tetap memakai masker saat melakukan aktivitas di dalam maupun luar ruangan.

Tambah Imunitas dengan Vaksinasi Booster

Demi mencegah penyebaran Omicron BA.4 dan BA.5, Mohammad Syahril meminta masyarakat untuk tidak panik. Percepatan vaksinasi COVID-19, termasuk booster harus dikejar.

Disebut-sebut varian keturunan Omicron yang masuk kategori Variant Under Monitoring (VUM) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ini memiliki kemungkinan menyebar lebih cepat dibandingkan subvarian Omicron BA.1 dan BA.2.

“Dengan ditemukannya subvarian ini (Omicron BA.4 dan BA.5), memang lebih cepat dari Omicron dan subvarian BA.1 dan BA.2, tapi tidak lebih berat. Jadi, enggak perlu panik, gejalanya ringan, dan kita bisa isolasi mandiri,” jelas Syahril.

“Vaksin booster ini kebutuhan seluruh masyarakat, diimbau booster untuk nambah imunitas. Bahkan kecukupan (stok vaksin) booster ini banyak dan bisa diberikan secara gratis.”

Pemerintah juga mengejar cakupan vaksinasi COVID-19 lengkap. Sesuai target WHO, setiap negara setidaknya dapat mencapai cakupan vaksinasi 70 persen dari populasi penduduk.

“Upaya khusus bagi kita mengejar vaksinasi lengkap dari yang masih 62 persen ini. Kita punya pengalaman cukup dan punya strategi berharap bisa lampaui 70 persen, begitu juga dengan booster,” pungkas Syahril.

“Tentu saja, strategi dosis penuh dulu agar booster melampaui apa yang kita harapkan.”

Adapun perkembangan program vaksinasi COVID-19 per 11 Juni 2022, penerima vaksin ke-1 bertambah 25.369 dengan totalnya melebihi angka 200 juta atau tepatnya 200.818.541 orang. Penerima vaksinasi ke-2 bertambah 33.136 dengan totalnya melebihi 168 juta atau tepatnya 168.030.935 orang.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.