Thursday, June 13, 2024
HomeLainnyaInternasionalKasus Covid-19 di China Kembali Meningkat, Tembus Hingga 1.000

Kasus Covid-19 di China Kembali Meningkat, Tembus Hingga 1.000

spot_img

SURYAKEPRI.COM – Kasus baru Covid-19 China masih menunjukkan tanda peningkatan. Meski tak setinggi negara lainnya, ini dikhawatirkan membuat pemerintah Presiden Xi Jinping menerapkan kebijakan penguncian ketat ke ekonomi nomor dua terbesar dunia itu.

Dalam update terbaru Komisi Kesehatan Nasional Rabu (14/9/2022), kasus Covid-19 Selasa tercatat 1.062. Di mana 237 di antaranya bergejala dan 825 tidak menunjukkan gejala.

Angka ini naik dibandingkan dengan kasus baru sehari sebelumnya, 1.048 kasus baru sehari. Di mana ada 242 infeksi bergejala dan 806 tanpa gejala.

Meski demikian, tidak ada kematian baru tercatat. Total angka warga meninggal terkait corona tetap di 5.226.

Mengutip Reuters, kasus masih terlihat di beberapa wilayah. Mulai dari ibu kota negara Beijing, kota metropolitan Shanghai, hingga ibu kota Provinsi Shicuan, Chendu.

Di Beijing, pemerintah melaporkan 18 kasus baru bergejala. Namun kasus tanpa gejala tak terdeteksi.

Di Shanghai ada satu kasus lokal dengan gejala dan tanpa gejala. Sementara di Chengdu ada 35 kasus infeksi.

Mengutip Worldometers, ada 5.000-an kasus aktif di China saat ini. Namun tak disebutkan apakah ini meliputi bergejala dan tidak atau bergejala saja, mengingat Beijing melakukan pemisahan perhitungan keduanya.

‘Kiamat’ Makanan dan Barang

Sementara itu, penduduk China di wilayah Xijiang kini kekurangan makanan dan barang-barang penting. Ini terjadi akibat penguncian (lockdown) yang dilakukan pemerintah.

Akibat mewabahnya Covid-19, Xinjiang sudah dikunci 15 hari. Puluhan juta orang di 30 wilayah telah diperintahkan untuk tinggal di rumah.

“Sudah 15 hari, kami kehabisan tepung, beras, dan telur,” kata salah seorang warga, dikutip BBC, Senin lalu.

“Dari beberapa hari yang lalu, kami kehabisan susu untuk anak-anak,” tambahnya.

Di wilayah otonomi Ili Kazakh misalnya, warga yang putus asa meminta bantuan ke media sosial. Salah satunya seorang pria Uyghur.

Ia meneriakkan bagaimana ketiga anaknya belum makan tiga hari. Di Yining, itu kota Ili, sebuah dokumen online bersama dengan lebih dari 300 permintaan mendesak untuk makanan, obat-obatan, dan pembalut beredar luas.

“Saya kehabisan uang untuk membeli perbekalan. Istri saya hamil dan kami punya dua anak. Kami kehabisan bensin. Istri saya perlu cek kesehatan,” kata warga lainnya di wilayah perbatasan Kazakhstan itu.

Xinjiang sendiri adalah wilayah di mana minoritas Muslim China, Uyghur, tinggal. Di wilayah ini ada pula suku Han dan Kazakh.

Sementara itu, di provinsi Guizhou barat daya, pihak berwenang mengunci area ibu kota Provinsi Guiyang. Ini dilakukan tanpa peringatan sebelumnya, sehingga membuat 500.000 penduduk terdampar di rumah tanpa ada kesempatan untuk bersiap.

Mengutip media Inggris The Guardian, lift dimatikan di gedung-gedung untuk menghentikan orang pergi. Warga juga tak bisa membeli barang online.

“Kami tidak bisa membeli barang secara online karena tidak bisa dikirim dan supermarket tutup,” kata seorang warga.

“Apakah pemerintah memperlakukan kami seperti binatang, atau mereka hanya ingin kami mati?” tanya salah satu pengguna di platform microblogging Weibo. (*)

 

Sumber: cnbcindonesia

BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img

POPULER