Monday, June 24, 2024
HomeLainnyaInternasionalInstruksi Presiden Iran Untuk Investigasi Penyebab Kematian Mahsa Amini

Instruksi Presiden Iran Untuk Investigasi Penyebab Kematian Mahsa Amini

Editor: Redaksi

spot_img

SURYAKEPRI.COM – Presiden Iran Ebrahim Raisi dalam keterangan pers yang disampaikan oleh Kedubes Islam Iran di Jakarta disebut telah mengeluarkan perintah dan instruksi agar lembaga-lembaga terkait menindaklanjuti peristiwa kematian Mahsa secara akurat, cepat dan transparan.

“Yang Mulia Dr. Ebrahim Raisi, Presiden Republik Islam Iran melalui saluran telepon menyatakan belasungkawa dan simpati kepada keluarga Mahsa Amini dan menegaskan bahwa ia telah menugaskan badan-badan terkait di Iran untuk segera menyelidik kejadian ini,” demikian keterangan dalam keterangan pers tersebut, Minggu (1/10).

“Lebih lanjut, Presiden Raisi telah memerintahkan Menteri Dalam Negeri untuk segera melakukan investigasi yang tepat dan akurat mengenal penyebab insiden meninggalnya Mahsa Amini,” sambungnya.

Sementara, Kepala Kekuasaan Yudikatif Republik Islam Iran, Mohseni Eje’i, juga meminta agar jajarannya menindaklanjuti peristiwa ini dengan cermat.

“Yang Mulia Eje’i menugaskan kepada Badan Kepolisian Forensik Iran untuk menyelidiki sebab kematian Mahsa Amini secara hati-hati dan teliti, la juga telah memerintahkan otoritas kehakiman untuk melakukan penyelidikan meyeluruh dan mendalam terhadap seluruh CCTV umum dan pribadi pada lokasi kejadian ini,” ungkap keterangan tersebut.

Pembentukan Tim Investigasi

Masih dalam keterangan yang sama, setelah peristiwa meninggalnya Mahsa Amini, beberapa tim investigasi dan pencari fakta khusus disebut telah dibentuk untuk mengklarifikasi semua aspek dalam insiden tersebut. Pembentukan tim ini untuk menemukan kebenaran.

Tim ini dibentuk di berbagai badan dan lembaga di Iran. Berikut tim investigasi yang sudah dibentuk:

  • Tim investigasi yang dibentuk oleh Menteri Dalam Negeri sesuai Perintah presiden;

  • Tim penyelidikan yang dibentuk oleh Jaksa Agung kota Tehran;

  • Tim penyelidikan lain yang dibentuk oleh Badan Administrasi Kehakiman Provinsl Tehran;

  • Tim penyidik yang terdiri dari para ahli yang dibentuk oleh Badan Kepolisian Forensik; dan

  • Tim pencari fakta yang dibentuk oleh Parlemen Republik Islam lran.

“Tim-tim investigasi ini telah mulai bekerja sesual dengan misi dan tujuan masing-masing untuk menghasilkan penyelidikan yang cepat, adil, tidak memihak, efektif dan independen atas insiden kematian Mahsa Amini termasuk dengan melakukan penelitian lapangan dan eksperimen ilmiah, meinjau catatan medis, memintai keterangan orang-orang dan pihakpihak yang relevan serta meninjau rekaman CCTV,” demikian keterangan Kedubes Iran di Jakarta.

“Hasil dari investigasi dan pencarian fakta oleh tim-tim tersebut secara terpisah akan diserahkan kepada otoritas kehakiman Iran,” sambungnya.

Dalam keterangan tersebut, Kedubes Iran juga menyatakan pernyataan-pernyataan pejabat tinggi di PBB yang menyebut kematian Mahsa akibat dipukuli di kepala, merupakan kesimpulan terlalu dini. Sebab investigasi masih dilakukan.

Merujuk pada pernyataan Menteri Dalam Negeri Republik Islam Iran, hasil penyelidikan awal dan laporan yang dibuat oleh Rumah Sakit Kasra mengungkap bahwa tidak ada tindakan kekerasan dan pukulan apa pun terhadap Mahsa Amini. Kini berbagai lembaga terkait pun sedang bekerja untuk menentukan penyebab kematian Mahsa.

Terkait demonstrasi yang meluas, Kedubes Iran menyatakan bahwa negaranya mengakui hak atas kebebasan berkumpul secara damai. Sehingga penyampaian aspirasi dilindungi oleh negara. Namun tidak jika melanggar ketertiban umum.

“Dalam hal terdapat langkah yang mengganggu ketertiban umum dan menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat maka pihak-pihak pelanggar peraturan akan dimintai pertanggungjawaban secara hukum,” tegas Kedubes Iran di Jakarta.

Demonstrasi

Aksi demonstrasi masyarakat Iran yang semula turun ke jalan kini sudah berubah bentuk. Pengunjuk rasa di Iran mulai menanggalkan mobilisasi massa.

Gerakan yang dinamakan anti-hijab itu kini dibentuk dalam skala kecil. Para demonstran tidak lagi turun ke jalan, protes tidak memakai kerudung dan yel-yel antipemerintahan diteriakkan di atap-atap rumah.

Beberapa perempuan juga terlihat tidak memakai hijab saat berada di tempat umum. Padahal Iran memberlakukan aturan ketat berpakaian di ruang publik.

Perubahan mobilisasi ini mengingat tindakan keras oleh aparat keamanan. Aparat demi meredam demo sampai menyiksa dan menangkap demonstran.

Akibatnya, menurut data Pemerintah Iran, sebanyak 41 orang tewas sejak demonstrasi pecah pada 17 September lalu. Data LSM Iran Human Rights menyebut jumlah korban jiwa menembus angka 83.

Ratusan orang telah ditangkap, 20 di antara mereka adalah jurnalis. Salah satu jurnalis yang ditangkap adalah Elahe Mohammadi, yang melaporkan pemakaman Amini pada 17 September di kota utara Saqqez. (*)

Sumber: msn

BERITA TERKAIT
spot_img
spot_img
spot_img

POPULER